Reaksi Anafilaktik: 7 Fakta Serius Akibat Gigitan Serangga yang Wajib Diwaspadai

Gigitan atau sengatan serangga sering dianggap sebagai masalah ringan yang hanya menimbulkan gatal atau kemerahan pada kulit. Namun, pada kondisi tertentu, reaksi anafilaktik akibat gigitan serangga bukanlah mitos, melainkan fakta medis yang serius dan berpotensi mengancam nyawa.

Anafilaksis merupakan reaksi alergi berat yang terjadi secara cepat dan dapat memengaruhi sistem pernapasan, kardiovaskular, serta kesadaran seseorang. Reaksi ini paling sering dipicu oleh sengatan serangga tertentu seperti lebah, tawon, dan semut jenis tertentu, termasuk jack jumper ant yang dikenal di Australia.

Apa Itu Reaksi Anafilaktik?

Reaksi anafilaktik adalah respons alergi sistemik yang terjadi ketika sistem imun bereaksi secara berlebihan terhadap zat pemicu (alergen). Pada kasus gigitan atau sengatan serangga, alergen biasanya berasal dari racun (venom) yang masuk ke dalam tubuh.

Ketika tubuh mengenali racun tersebut sebagai ancaman, sistem imun melepaskan zat kimia seperti histamin dalam jumlah besar. Pelepasan inilah yang menyebabkan berbagai gejala berbahaya, mulai dari gangguan pernapasan hingga penurunan tekanan darah secara drastis.

Anafilaksis dapat berkembang dalam hitungan menit setelah sengatan terjadi, sehingga memerlukan penanganan medis segera.

Gejala Reaksi Anafilaktik Akibat Gigitan Serangga

Gejala anafilaktik dapat muncul dengan tingkat keparahan yang berbeda pada setiap orang. Beberapa gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Kesulitan bernapas atau napas berbunyi (mengi)
  • Pembengkakan pada lidah, bibir, wajah, atau mata
  • Rasa sesak atau tercekik di tenggorokan
  • Suara serak atau sulit berbicara
  • Gatal-gatal dan ruam kulit yang menyebar
  • Mulut terasa kesemutan
  • Sakit kepala yang menetap
  • Pusing, pucat, dan kelemahan tubuh

Pada kondisi yang lebih berat, anafilaksis dapat disertai nyeri perut, muntah, penurunan kesadaran, hingga henti napas. Jika seseorang mengalami salah satu gejala tersebut setelah digigit atau disengat serangga, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele.

Siapa yang Berisiko Mengalami Anafilaksis?

Tidak semua orang akan mengalami reaksi anafilaktik akibat gigitan serangga. Risiko lebih tinggi biasanya dialami oleh individu yang:

  • Memiliki riwayat alergi berat sebelumnya
  • Pernah mengalami reaksi alergi parah akibat sengatan serangga
  • Memiliki asma atau gangguan pernapasan
  • Memiliki riwayat keluarga dengan alergi berat

Seseorang yang pernah mengalami reaksi anafilaktik akibat sengatan serangga tertentu juga berisiko lebih besar mengalami reaksi yang lebih parah jika tersengat kembali oleh jenis serangga yang sama.

Pencegahan Reaksi Anafilaktik Akibat Gigitan Serangga

Bagi individu dengan riwayat alergi berat, pencegahan menjadi langkah utama untuk menghindari kondisi darurat. Beberapa langkah pencegahan yang dianjurkan meliputi:

  • Mengenakan pakaian tertutup seperti baju lengan panjang dan celana panjang saat berada di alam terbuka
  • Menggunakan sepatu saat berada di luar ruangan
  • Memilih pakaian berwarna terang untuk mengurangi ketertarikan serangga
  • Menggunakan losion atau semprotan penolak serangga
  • Menghindari aktivitas luar ruangan saat fajar dan senja
  • Menghindari area sarang lebah dan tawon
  • Memeriksa keberadaan kutu atau serangga di area yang akan dikunjungi

Langkah-langkah sederhana ini dapat secara signifikan menurunkan risiko tersengat serangga pemicu alergi.

Penanganan Darurat Saat Terjadi Reaksi Anafilaktik

Reaksi anafilaktik merupakan kondisi darurat medis. Jika seseorang diketahui berisiko mengalami anafilaksis, sangat dianjurkan untuk selalu membawa autoinjector adrenalin seperti EpiPen.

Adrenalin berfungsi membuka saluran pernapasan yang menyempit dan meningkatkan tekanan darah yang menurun akibat reaksi alergi berat. Tindakan yang harus dilakukan antara lain:

  1. Segera menyuntikkan adrenalin menggunakan autoinjector
  2. Menghubungi layanan medis darurat
  3. Membaringkan pasien dan menjaga jalan napas tetap terbuka
  4. Menghindari pemberian obat yang dapat memperburuk reaksi, seperti beta blocker
  5. Segera menuju fasilitas kesehatan meskipun gejala tampak membaik

Penting dipahami bahwa adrenalin adalah pertolongan pertama, bukan pengganti perawatan medis lanjutan.

Sc: Halodoc

Terapi Jangka Panjang dan Imunoterapi

Dalam beberapa kasus, dokter spesialis alergi atau imunologi dapat merekomendasikan imunoterapi atau desensitisasi. Terapi ini dilakukan dengan memberikan paparan alergen dalam dosis kecil secara bertahap dan terkontrol dalam jangka waktu tertentu.

Tujuan imunoterapi adalah meningkatkan toleransi tubuh terhadap racun serangga sehingga risiko reaksi anafilaktik dapat ditekan. Namun, terapi ini tidak tersedia untuk semua jenis alergi, misalnya alergi akibat gigitan kutu.

Mitos atau Fakta?

Berdasarkan data medis, termasuk laporan kesehatan di Amerika Utara, hanya sedikit jenis serangga yang memiliki racun berpotensi memicu reaksi anafilaktik. Namun, pada individu yang sensitif, reaksi anafilaktik akibat gigitan serangga adalah fakta medis yang nyata dan berbahaya.

Dalam kondisi ekstrem, anafilaksis dapat menyebabkan saluran napas tertutup dan menghentikan pernapasan jika tidak segera ditangani. Oleh karena itu, edukasi, kewaspadaan, dan kesiapan penanganan darurat menjadi kunci keselamatan.

Kesimpulan

Gigitan serangga memang sering dianggap sepele, tetapi bagi sebagian orang, kondisi ini dapat memicu reaksi alergi anafilaktik yang mengancam nyawa. Mengenali gejala, memahami faktor risiko, serta mengetahui langkah pencegahan dan penanganan darurat sangat penting untuk menghindari dampak fatal.

Jika kamu memiliki riwayat alergi berat akibat gigitan serangga, segera konsultasikan dengan dokter atau ahli alergi untuk mendapatkan rencana penanganan yang tepat. Kesadaran dan kesiapan adalah langkah terbaik dalam menghadapi risiko anafilaksis.

Scroll to Top